Deras hujan turun membasahi
Terjerembab dalam kubangan lumpur bersama
Hanyut, bergoler hingga lupa diri, lupa waktu
Tersirat bunga dalam sanubari yang paling dalam bernama ketulusan

Namun, Sebuah penghakiman
Sebuah pengutukan
Ludah berhampuran menyiram wajah
Yah, seakan menjadi biang segala hina
Dari masa ke masa

Tak berdaya, ketika mengerti arti sebuah kehangatan
Ditinggal begitu saja tanpa nada
Tanpa ada pintu yang terketuk
Ketika sang pemilik hendak pergi

Kutelusuri segala jejak harum bunga yang tersisa
Mencari, demi sebuah kesimpulan
Yang ternyata adalah sebuah ketidakteguhan, sebuah pengingkaran

Kupandang sesosok penuh kasih dan sayang
Dengan berlinang masih mau menatap sebuah kepekatan
Dengan sudut pandang yang berbeda
Pilu kian menjadi
Berjuta ton pemberat jatuh menimpanya
Mencoba tetap tegar meski pulir demi pulir tidak mampu lagi tertahan
Dengan segala kesedihan masih bisa memberikan sebuah pengampunan
Dan menyisakan harapan agar tidak lupa dengan yang ada
Tetap menjalin ukhuwah

Bersimpuh memohon ampun dari Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Menangis sejadi-jadinya

Sua mungkin akan tercipta dengan cerita yang berbeda
Sampai Ketemu di London, Haniy

Ciputat, Tangerang Selatan, 16 April 2014

Sampai Ketemu di London