Tuturnya seperti madu namun beracun
Membiusku untuk menikmati keindahan semu
Lalu perlahan dengan sangat telak hujamkan busur panah
Tepat menusuk relung kalbu
Meski begitu ku tetap duduk manis sebagai pengagummu
Meski lumpur ini sudah menutupi seluruh wajahku
Seperti berjalan tak berbusana di tengah keramaianpun aku rela terima
Demi membelamu

Kau begitu lantang ikrarkan perlawanan atas kepeketan
Berkiblat pada ke-Agungan Utama pemilik seluruh alam
Tapi sayang kau tutup matamu dengan kacamata kuda
Menganggap yang lalu semua adalah hina
Untuk menatapku pun kau tak sudi
Apalagi kau suarakan hatimu lewat kedua pengecapmu
Begitupun kau suruh aku untuk mengerti, memahami?
Kekaguman ini meluntur seiring kepudaran purnama
Yah aku tahu segala cita kita di masa lalu sudah hancur
Sejak nada-nada indah itu melayang semakin jauh

 

Bandung, 2 Juli 2014