poster festival detik jawara

Desa merupakan wilayah administratif terkecil di bawah kecamatan yang dimpimpin oleh seorang Kepala Desa (Wikipedia). Masing-masing desa memiliki sumber daya dan potensi  yang berbeda. Dengan segala hal yang dimiliki, warga desa dan perangkat desa suka tidak suka harus mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) guna meningkatkan taraf hidup masyarakat serta pelayanan perangkat desa kepada warga masyarakatnya.

Belum meratanya infrastruktur dan ketersediaan Sumber Daya Manusia di bidang TIK berpengaruh terhadap pemanfaatan TIK di tingkat desa yang akhirnya membuat kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Hal ini membuat penggunaan dan pemanfaatan TIK belum dijadikan prioritas utama oleh pemerintahan desa. Bahkan ada kecenderungan pasrah dengan keadaan yang ada. Tentunya akan menghambat cita-cita mewujudkan pemerintahan desa yang transparan dan akuntabel sesuai dengan amanat UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Untuk desa-desa yang saat ini minim infrastruktur terutama akses kabel jaringan, saat ini dapat memanfaatkan jaringan seluler dari beberapa provider. Sayangnya, tidak semua desa yang terjangkau jaringan seluler tersebutpun serta merta dapat menikmati akses data yang murah, cepat dan stabil. Untuk itu diperlukan solusi untuk membangun infrastrktur jaringan secara mandiri bagi desa. Salah satunya adalah dengan membangun Jaringan MESH.

Salah satu sarana penunjang bagi pelaksanaan UU Keterbukaan Informasi Publik adalah sarana publikasi berupa website. Jadi, selain ketersediaan infrastruktur TIK yang memadai, dibutuhkan SDM TIK yang memadai pula untuk mengoptimalkan penyebaran informasi tentang desa secara online yang tidak hanya informatif tetapi juga harus interaktif maupun transaksional melalui peningkatan intensitas komunikasi dan ketertarikan masyarakat. Selain itu, perlu juga melibatkan warga masyarakat untuk terjun bersama memberitakan desanya secara online melalui jurnalisme warga.

Terakhir, saat ini masih banyak perangkat desa yang menggunakan software ilegal atau bajakan. Untuk mengedukasi perangkat desa dalam penggunakan software legal, perlu untuk didorong penggunaan software open source salah satunya dengan menggunakan Sistem Operasi Grombyang yang dikembangkan oleh GROS-TEAM. Di sana sudah satu paket dengan aplikasi pendukungnya.

Relawan TIK Pemalang, Grombyang OS Team dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Pemalang akan menggelar hajatan besar tentang bagaimana implementasi pemanfaatan TIK untuk desa tersebut dalam sebuah kegiatan yang diberi nama Festival Detik Jawara (Festival Desa-Desa TIK Jawa Pantai Utara). Kegiatan ini akan digelar 23 Agustus 2015.

Lokasi Acara : Hotel Regina

Harga Tiket :
Kelas Umum/Mahasiswa Rp 75.000
Kelas Siswa/Pelajar Rp 50.000

Pembicara yang akan dihadirkan antara lain :

  • Onno W. Purbo (Pakar IT Indonesia) – Mebangun Jaringan MESH di Perdesaan
  • Helmi Budi Prasetyo (Blogger Indonesia) – Jurnalistik untuk Desa
  • Setia Pambudi (Kades Jebed Utara) – Pemanfaatan TIK untuk Desa
  • Sumitro Aji Prabowo (Ketua GrOS Team) – Pengenalan Grombyang OS
  • Etc Session (Litbang GrOS Team) – Remaster dan Bedah Grombyang OS
  • Jordan Andrean (GrOS Team) – Membangun Telp. VOIP untuk Perdesaan
  • Massol (Blogger Pemalang) – Jurnalistik untuk warga Desa
  • Erni Sulistyowati (Praktisi SEO) – Optimasi Web

REGISTRASI HANYA ONLINE di :

http://seminar.grombyang.or.id