massolpanjava sanghyang heueut_1
Menuju lokasi PLTA Saguling

Wajar saja Sanghyang Heuleut dibilang sebagai surga yang tersembunyi. Itu karena dua hal. Pertama, disebut surga karena memiliki keindahan yang eksotis, bener ga yah? Ga yakin gini aku. Kedua, karena lokasinya yang memang jauh dari peradaban manuasia, lebay, hehe. Dua pernyataan tersebut sengaja di-hiperbola-kan agar kalian nanti penasaran.

Bisa ke Sanghyang Heuleut adalah suatu kecelakaan bahasa halusnya tidak disengaja. Dalam agenda touring bersama rekan-rekan NWI Cikarang tidak menyebutkan lokasi wisata ini sebagai tujuan. Mulanya kami mengagendakan untuk mengunjungi Stone Garden dan Waduk Cirata di Kabupaten Purwakarta, namun akhirnya berubah seiring dengan keinginan kami yang berubah dari sekedar melihat-lihat menjadi ingin sekalian mandi.

Pada saat kami selesai mengeksplore bebatuan Stone Garden, kami mencoba googling wisata-wisata terdekat dengan lokasi kami di Stone Garden. Google mengarahkan kami ke suatu tempat pemandian air panas di Saguling. Selain itu, kami juga tergoda untuk mengeksplore Sanghyang Heuleut yang juga muncul dalam pencarian google kami meski pada saat itu kami pertimbangkan untuk diskip karena melihat informasi bahwa menuju lokasi dan balik kembali membutuhkan waktu 2 jam perjalanan.

Sekitar pukul 10 pagi kami bergegas ke Pemandian Saguling. Dari lokasi wisata Stone Garden menuju pemandian Saguling tidak memakan waktu yang lama namun kami kecewa melihat kenyataan yang ada. Di benak kami, Saguling itu mirip dengan pemandian air pans Guci di Tegal. Apa dinyana ternyata hanya berupa kamar-kamar kecil yang kondisinya juga kurang terawat. Di sini masing-masing dikenakan tiket masuk sebesar Rp 3.000. Murah sih, tapi…kami akhirnya urungkan niat untuk mandi.

Ibarat kata sudah kepalang basah, kami yang sudah di lokasi akhirnya mencari tahu tentang lokasi Sanghyang Heuleut. Kurang lebih berjarak 500m dari Pemandian Air Panas Saguling, kami menemukan PLTA Saguling. Di sana warga sudah menyambut kami dengan menawarkan wisata Sanghyang Heuleut. Akhirnya kami sepakat untuk menuju Sanghyang Heuleut meski lokasinya harus ditempuh kurang lebih 1+1 jam (PP). Oleh warga yang menyebut diri mereka sebagai Karang Taruna desa setempat, kami diminta tarif Rp 20.000 per orang. Mulanya itu di luar biaya parkir tapi kami tawar dan biaya tersebut sekaligus dengan biaya parkir. Kami sepakat, Karang Taruna memberikan seorang guide yang ditemani putranya kepada kami.

Cerita bersambung ke Sanghyang Heuleut, Surga yang Tersembunyi #2