massolpanjava-trip sanghyang heuleut (7)
Perjalanan menuju lokasi, wajah tampak ceria. Setelah jalan beberapa ratus meter muka pada merengut semua😀

Ini merupakan kelanjutan saya dan teman-teman yang touring ga jelas, hehe. Nah, setelah sepakat dengan membayar Rp 20.000 per orang, dari pihak Karang Taruna memberikan seorang guide (penunjuk jalan) saya kebetulan lupa namanya, panggil saja Kang Dadang😀. Jika memandang sekilas mungkin kita akan mengira Akang yang berperawakan kurus (Kang Dadang) ini kurang meyakinkan sebagai guide. Penampilannya sederhana tapi….karena sudah terbiasa beliau tidak merasa capek ketika mengantarkan kami menuju lokasi utama (Sanghyang Heuleut) dan kembali ke tempat parkiran.

massolpanjava-trip sanghyang heuleut (22)
Jalan menurun (posisi seperti ini karena efek kamera depan yang kurang pas mengatur kanan kirinya)

Oke, kami mulai ke lokasi nih. Di sebelah kanan jalan terlihat pembangkit listrik (PLTA Saguling). Dari jalur utama kami diarahkan untuk belok kiri melewati palang pintu ke lokasi dua pipa besar berwarna orange. Kami menyusuri melewati bawah pipa besar dengan kemiringan sekitar 50 derajat (ngira-ngira aja sih). Tenaga kami saat melewati ini masih cukup sehingga tidak ada keluhan meski harus berjalan menahan badan yang melewati beton miring. Selanjutnya kami diarahkan naik ke tangga setinggi kurang lebih 7 6-7 meter lalu lanjut menyusuri beton miring sebelum benar-benar menginjak tanah di perkebunan. Harus benar-benar hati-hati karena kalau terpelset maka kemungkinan kita akan cedera karena lumayan tinggi.

Kita akan diarahkan melewati perkebunan atau ladang-ladang dengan jalan setapak. Ladang tersebut sebagian ditanami dengan pohon pisang. Ada juga masyarakat yang menanami dengan cabai. Jalan setapak tersebut naik turun. Oiya, karena jalannya berupa jalan tanah, sebaiknya gunakan sandal gunung atau sepatu gunung (haking). Kita akan melewati beberapa jembatan kecil dengan gemercik aliran air sungai. Hingga paruh perjalanan kita akan disuguhi dengan lingkungan yang asri dan adem.

Nah, di paruh perjalanan kita akan menemui Sungai Citarum. Di Spot ini kalian dapat menikmati keindahan bebatuan. Lagi-lagi kami memang kurang beruntung. Kami kebagian air keruh. Salah satu dari kami, Fajar mengaku kecewa setelah melihat airnya yang keruh padahal dia paling semangat berjalan paling depan. Oiya, Di spot ini ada penjual makan. Makanan yang disediakan di sini ada gorengan, makanan ringan dan Popmie. Selebihnya ya paling air mineral. Perlu diketahui juga bahwa menuju dan di tempat lokasi Sanghyang Heuleut tidak ada penjual nasi. Hanya makanan yang tadi saya sebutkan. Jadi, sebaiknya sih bekal sendiri makanannya apalagi harus berjalan 2 jam (PP) pasti menguras energik kita.

Oke kembali ke laptop. Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati jembatan bambu yang kondisi sudah lumayan reot. Hati-hati yah jika melewati jembatan ini karena bisa jatuh jika kurang hati-hati. Oiya, salah satu tim kami kelelahan dan terpaksa kami tinggal di saung tempat jualan makanan. Setelah di paruh perjalanan pertama tadi melewati jalan setapak berupa kebun-kebun yang dikelola warga setempat, pada paruh kedua perjalanan lebih banyak menyusuri tepi sungai. Jalurnya lebih menantang karena harus melewati bebatuan. Sekali lagi, harus hati-hati sekali karena kondisinya licin dan ada beberapa jalur yang tidak melewati jalur sesungguhnya karena ada beberapa yang longsor. Foto dibawah ini salah satu titik jalur menuju Sanghyang Heuleut.

 

massolpanjava-trip sanghyang heuleut (29)
Jalur susur sungai

Oiya, di tengah perjalanan kami ketemu dengan dua cewek yang mengalami kesulitan menuju lokasi. Dimas, yang berada di depan akhirnya membantu mereka melewati beberapa titik yang memang harus esktra hati-hati. Kebetulan dua cewek ini mulanya tidak mempersiapkan diri menuju Sanghyang Heuleut. Itu bisa dilihat dari kostumnya. Mereka habis kondangan terus lanjut trip Sanghyang Heuleut, wuaduh. Jalan ke lokasi ginian make rok.

Menuju Sanghyang Heuleut adalah perjuangan yang luar biasa. Saya dan teman-teman saya yang memang jarang olah raga ngos-ngosan menuju ke sana. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam.

Sampailah kami di Sanghyang Heuleut, inilah yang oleh banyak orang disebut dengan “Surga yang Tersembunyi”. Jadi Sanghyang Heuleut ini menurut informasi dari mulut ke mulut dahulu merupakan danau purba.

massolpanjava-touring perdana sanghyang heuleut dan stone garden001096
Ini salah satu spot favorit untuk lompat

Di spot tersebut pengunjung biasanya melakukan jumping atau melompat dari atas batu. Kedalaman airnya menurut info yang saya dapat dari Kang Dadang (Guide) sekitar 8 meter. Dengan kedalaman segitu, aman untuk melakukan lompatan. Saya sendiri tidak sempat mencoba untuk melakukan lompatan karena memang kemampuan berenangnya pas-pasan jadi takut kelelep haha.

Spot-spotnya sebenarnya bagus untuk pengambilan gambar, tetapi semua ketutup oleh keruhnya air. Saya, Dimas dan Mas Dwi beranikan diri untuk nyebur meski airnya keruh.

massolpanjava-touring perdana sanghyang heuleut dan stone garden001120

Lengkapnya lihat aja dah ke galeri di bawah ini. Bayangin aja airnya jernih yah, hehe.

massolpanjava-trip sanghyang heuleut (45)
Bang Ocid, ga kuat naik, haha

Setelah puas berenang-renang dan foto-foto kami akhirnya kembali. Ngebayangin berangkatnya saja sudah capek apalagi harus melewati jalurnya, sudah ilfil duluan haha. Kami semua sampai kelelahan hingga harus beristirahat beberapa kali. Malah Bang Ocid sampai kelelahan dan tidak kuat seperti gambar di bawah ini. Kang Dadang (guide), selalu menemani saat kami berangkat, saat berenang dan saat pulang. Jadi kami benar-benar ditemani. Di titik-titik yang sulit dilalui beliau selalu membantu kami.

Sejujurnya kami tidak puas mengeksplore lokasi wisata Sanghyang Heuleut ini karena airnya yang keruh. Tidak sedap untuk diupload ke instagram atau ke media sosial lainnya, wkwkwkw. Jika melihat foto-foto di google dan instagram, sebenarnya bagus kok. Jadi, kalian jangan khawatir, tempat ini memang bagus kok.

Hal-hal yang harus diperhatikan bagi pengunjung:

  1. Persiapkan fisik (jangan lupa makan dan bawa perbekalan secukupnya, jangan terlalu berat bila perlu perbekalan yang tidak perlu silahkan ditinggalkan di lokasi singgah tempat kalian menitipkan motor, insya Allah aman)
  2. Persiapan kostum, sepatu dan lain-lain. Gunakan pakaian kaos yang menyerap keringat. Jangan lupa gunakan sepatu atau sandal gunung
  3. Kamera (buat dokumentasi)
  4. Jangan buang sampah sembarangan karena tempat ini masih asri dan tidak ada petugas kebersihan. So, kalianlah yang harus menjaga kebersihan lokasi wisata ini
  5. Siapkan uang jika kalian ingin menyewa pelampung (Rp 20.000/orang)

Kekurangan:

  1. akses jalan yang kurang bagus (tapi akan menarik untuk yang suka bertualang)
  2. tidak ada ruang ganti yang memadai
  3. tarif Rp 20.000/orang saya rasa masih terlalu mahal
  4. Minim pengawas

Jangan lupa baca :