Curug Bengkawah dan Curug Sibedil menjadi salah satu magnet wisatawan yang datang ke Pemalang. Foto-foto keindahan dua tempat ini bertebaran di dunia maya khususnya di instagram. Setelah sekian lama menyimpan rasa penasaran dengan kedua tempat ini, Senin tanggal 12 September 2016 lalu saya mengunjungi kedua curug ini. Yuk simak catatan perjalanan saya menjelajah kedua curug yang sekaligus menjadi pesona wisata Pemalang dan Jawa Tengah ini.

Catatan Perjalanan

Jika kita ambil titik awal di Alun-Alun Pemalang, jarak menuju ke Curug Bengkawah kurang lebih 32,6 km. Karena saya memulainya dari Jalan Perintis Kemerdekaan jarak bertambah lebih jauh sekitar 36 km. Sedangkan jarak dari Alun-Alun Pemalang menuju Curug Sibedil kurang lebih kurang lebih 43,5 km. Artinya perjalanan menuju Curug Bengkawah lebih dekat dibandingkan dengan Curug Sibedil. Berdasarkan pertimbangan tersebut saya putuskan untuk mengunjungi Curug Bengkawah terlebih dahulu baru dilanjutkan ke Curug Sibedil.


Ada beberapa pilihan untuk menuju ke sana. Kalian bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor, bisa juga dengan kendaraan umum. Jika kalian menggunakan kendaraan umum naiklah bus 3/4 jurusan Belik atau Purwokerto lalu turun di pertigaan jalan masuk menuju Curug Bengkawah lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menitan. Di sana sudah ada petunjuk arah yang akan mengarahkan kalian menuju lokasi.

Walaupun bisa dengan kendaraan umum, percayalah bahwa kalian akan ribet. Selain harus menunggu kendaraan yang lewat, waktu tempuh juga tidak bisa kalian prediksi. Bisa cepat atau bisa saja lebih lelet.

Saya sarankan sekali kalian gunakan sepeda motor karena dengan kendaraan ini kalian bisa menyodok lebih dekat ke lokasi. Jika menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/j waktu tembuh kalian sekitar 45-50 menit.

Saya akhirnya pilih dengan motor selain karena tidak punya mobil atau tidak bisa mengendarai mobil, juga bisa lebih hemat dan praktis. Mbrum…mbrum…wus wus melesat menuju Curug Bengkawah.

Dalam perjalanan, meski menggunakan sepeda motor saya tidak khawatir panas-panasan karena sepanjang perjalanan di kanan dan kiri beberapa titik menyuguhkan pemandangan yang asyik untuk dinikmati. Jalanannya teduh karena rindanganya hutan jati, saya juga menikmati hamparan sawah yang membentang. Akses jalan menuju Pemalang selatan kini sudah mulus. Pokoke perjalanannya asyik deh.

Sesampai di pertigaan Randudongkal ambil arah kiri menuju Purbalingga atau Purwokerto. Tidak lama keluar dari pasar Randudongkal saya langsung melintas di Desa Sikasur. Kurang lebih berjarak 1 km dari Randudongkal, di sebelah kanan jalan terdapat plang merah bertuliskan Obyek Wisata Telaga Silating dan Curug Bengkawah.

Plang penunjuk jalan (kabarpemalang.com)
Plang penunjuk jalan (pinjam dari kabarpemalang.com karena kemarin tidak sempat foto plang ini)

Eits, saya tidak berhenti di situ karena jalan masuk menuju lokasi masih sekitar 50m dari plang pertama tadi. Sampailah saya di jalan masuk yang mana di sana ada plang lebih besar berwarna putih yang tulisannya hampir sama seperti plang pertama.

Dari titik tersebut saya lanjutkan perjalanan masuk ke Jalan Desa Sikasur-Simpur. Jalannya sudah bagus. Baru setelah 500m akan ada penunjuk jalan menuju Curug Bengkawah saya belok ke kanan. Dari sini jalan sudah bebatuan tanpa aspal. Saya jalan hingga meninggalkan perkampungan warga menuju area sawah. Saya ikuti apa kata petunjuk jalan dan akhirnya masuk area sawah yang mana jalannya makin menyempit. Idealnya hanya bisa dilewati satu motor, jadi jika berpapasan dengan motor dari arah berlawanan salah satunya harus mengalah dan berhenti.  Jika tidak salah satunya harus rela nyebur ke sungai kecil, lebih-lebih bisa nyungsep ke sungai yang besar.

trip-curug-bengkawah-curug-sibedil-massolpanjava-wisatapemalang13
Akses melewati jalan di pinggir sawah

Setelah jalan dengan sangat hati-hati akhirnya saya mendapati area parkir sekaligus pembayaran tiket masuk Curug Bengkawah. Parkirnya tidak terlalu luas tapi cukuplah untuk sekitar 100 sepeda motor. Di situ juga disediakan toilet namun saya tidak sempat mengecek karena sudah kadung kebelet pingin lihat Curug Bengkawah.

Tarif Masuk dan Parkir

Harga tarif parkir dan tiket masuknya masih sangat manusia apalagi untuk budget anak sekolah dan mahasiswa , terjangkau bro. Parkir dikenakan tarif Rp 2.000/motor sedangkan tiket masuk dikenakan Rp 4.000/orang. Sayangnya waktu itu petugas tidak memberikan karcis baik parkir maupun tiket masuknya. Terus itu laporannya kepiye kalo tidak ada laporan jumlah motor yang parkir dan tiket masuk. Sempet-sempetnya mikir gitu saya, haha.

Oke, lanjut. Dari tempat parkir tadi perjalanan saya lanjutkan dengan melewati jalan setapak area sawah. Hanya sekitar 100m saya sudah area masuk. Dari situ saya turun lewat jalan bebatuan sekitar 15m. Di sini ada pohon besar yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai sambil menikmati keindahan Curug Bengkawah.  Untuk sampai di spot paling dekat dengan grojokan air atau curugnya harus turun lagi sekitar 5m ke bawah. Saya langsung takjub, “WOW Akhirnya saya sampai di Curug Bengkawah. Amazing!!!”. Setelah bertahun tahun lamanya menanti untuk bisa ke sini akhirnya terbayarkan sudah.

Catatan tentang Curug Bengkawah

Jarak titik aman ke titik curug sekitar. Di Curug tersebut dikelilingi dengan dinding batu. Area tengah berbentuk cekungan melingkar. Kedalamannya sendiri dari beberapa sumber artikel ada yang menyebut 3m tapi ketika saya menanyakan ke salah satu warga yang kebetulan sedang memancing, kedalamannya melebihi satu batang bambu, “mbuh iku pirang meter, Masbro”. Intinya sangat dalam dan tidak direkomendasikan digunakan untuk bermain di situ. Saya akhirnya sempatkan menyentuh airnya namun di area aliran sungainya yang dangkal. Di Arean ini jauh lebih aman bro, karena memang dangkal.

Di area curug sudah banyak pengunjung yang duduk santai dan berfoto-foto. Ada juga keluarga yang sedang bermain air di aliran sungainya. Curug ini memiliki dua terjun dengan ketinggian kurang lebih 20m. Di Pemalang, Curug Bengkawah merupakan curug dengan terjun paling besar atau deras. Cocok buat background foto narsis atau foto-foto pre-wedding kalian nanti yah bro, hihi.

Saya coba mengambil beberapa gambar. Sayangnya karena menggunakan kamera ponsel dan pada saat itu matahari tepat di atas curug, hasil jepretannya pun kurang memuaskan karena terdapat pantulan cahaya yang sangat menggangu. Kalo kalian ke sini, bawa kamera yang oke yah biar ga nyesel buat mengabadikan momen-momen seru kalian.

Saya tidak terlalu berlama-lama di sini karena masih ada tempat berikutnya yang musti saya jamah, Curug Sibedil. Overall puas dengan dengan keindahan Curug Bengkawah. Foto-fotonya bisa dilihat di sini gaes…

Lanjut ke Curug Sibedil

Perjalanan pun saya lanjutkan menuju Curug Sibedil di Desa Sima Kecamatan Moga. Dari Curug Bengkawah menuju Curug Sibedil jarak yang harus ditempuh kurang lebih sekitar 15 km dan butuh waktu tempuh 20 menitan. Saya kembali ke arah Randudongkal kemudian belok kiri ambil jalur arah Moga. Sesampai di pertigaan Moga ambil kanan ke arah Guci-Tegal. Tidak jauh dari sana saya mendapati plang Curug Sibedil lalu saya belok kanan melewati Jalan Mandiraja. Sekitar 500m saya menjumpai plang kecil Curug Sibedil dan kembali belok kanan lalu lewat Gang Watu Kendal. Selang 30 meteran ada loket pembelian tiket.

 Tarif Masuk dan Parkir

Berbeda dengan Curug Bengkawah, di sini sudah tersedia loket dan karcis untuk masuk dan parkir motor. Biaya yang harus dikeluarkan sama, Rp 2.000 untuk parkir motor dan Rp 4.000. Percayalah bahwa liburan ke curug ini tidak akan mengakibatkan kalian jatuh bangkrut, haha.

Setelah membayar tiket masuk dan parkir motor saya menuju area parkir. Di sini sudah disediakan lahan parkir yang cukup luas, tetapi hanya untuk motor karena Gang Watu Kendal sangat sempit dan tidak bisa dilalui mobil. Dari area parkir saya berjalan lewat jalan kecil di pemukiman warga. Suasanya yah memang kampung, sapaan warga juga cukup akrab ketika kita berjalan ke lokasi.

Sebelum sampai di lokasi saya melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Ternyata aliran air di bawahnya merupakan aliran Curug Si Bedil karena sekitar 15m dari sana adalah lokasi curugnya. Eits meski jaraknya cuma sekedipan mata alias deket, saya harus berjalan memutar karena untuk masuk area curug sudah disediakan jalan kecil. Jika memandang ke sebelah kanan, wow tinggi banget gaes, makannya kita diarahkan melalui jalur yang sudah disediakan.

Di sebelah kiri kalian akan disuguhkan bentangan sawah. Sebelum masuk ke jalur masuk Curug berupa turunan, di sana terdapat warung yang menjajakan makanan. Di sini kalian bisa bersantai sejenak untuk istirahat sambil minum-minum bro, tetapi saya yakinlah kalo sudah sampai kalian akan langsung menuju Curug. Saya harus berhati-hati karena jalurnya menurun dan basah. Untungnya berupa bebatuan bukan tanah jadi jika kita menggunakan sepatu atau sandal gunung akan lebih aman. Sangat tidak direkomendasikan menggunakan sandal atau sepatu habis kondangan yah bro karena akan menyulitkan kalian untuk turun.

Sampailah saya di Curug Sibedil yang hits banget di dunia maya. Berbeda dengan Curug Bengkawah. Grojogan air di sini lebih tenang namun lebih banyak meski kecil-kecil. Ada sekitar lima grojogan. Itulah yang menambah keindahan curug ini. Cekungan di bawah curug termasuk dangkal dan aman untuk bermain atau berenang renang. Bahkan kita juga bisa foto di spot pas di bawah grojogan airnya.

trip-curug-bengkawah-curug-sibedil-massolpanjava-wisatapemalang19
Curug Sibedil

Panorama yang disajikan berupa air terjun dengan ketingian sekitar  50 meter, dikelilingi tebing dan pohon bambu yang rindang.  Aliran air di sini tidak pernah kering meski musim kemarau. Aliran air Curug Sibedil sendiri berasal dari Kalisat.

Menariknya lagi, jika kita menepukkan air di bawah curug suaranya akan menggema seperti letupan-letupan keras, “Jedug…jedug…”. Suara yang ditimbulkan inilah yang menurut saya membuat curug ini dinamakan dengan Sibedil. Hal itu saya lihat sendiri ketika beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain menepuk-nepukkan air dan keluar suara yang tidak biasa, “jedug jedug” amat keras. Mulanya saya mengira ada yang menabuh kendang atau ember ternyata suara tersebut mengikuti tepukan tangan beberapa anak kecil tadi. Sayangnya di beberapa sumber artikel disebutkan bahwa suara letupan itu berasal dari sebuah batu yang berwujud seperti meriam dan mengeluarkan suara setiap hari jumat. Cek aja sumber ini gaes.

trip-curug-bengkawah-curug-sibedil-massolpanjava-wisatapemalang18
Curug Sibedil

Di sini banyak pengunjung yang sedang menikmati keindahan Curug Sibedil. Ada rombongan keluarga yang sedang bermain air, pasangan muda-mudi dan rombongan remaja. Selain menikmati grojogan air, tentu mereka abadikan momen dengan jeprat-jepret. Habis foto langsung update di akun sosial mereka masing-masing, kali aja gitu bro, hehe. Inilah kenapa curug ini menjadi terkenal karena foto-fotonya sudah ramai di jagad maya. Bahkan, saya sendiri juga tau curug ini bermula dari internet.

Oh iya, di area curug sendiri sudah disediakan kamar mandi untuk bilas dan ganti pakaian. Di sana juga terdapat bangku yang terbuat dari kayu untuk duduk bersantai. Tempat sampah juga sudah disediakan di sini.

Setelah puas foto-foto di Curug Sibedil akhirnya saya harus kembali. Sebelum menuju ke rumah, saya sempatkan untuk mencari Nanas Madu, ternyata memang sedang tidak terlalu banyak jadi untuk mendapatkannya saya harus naik lagi ke area Kecamatan Belik tepatnya di Desa Beluk. Membawa 5 buah Nanas Madu cukuplah untuk oleh-oleh di rumah. Di lain kesempatan akan saya coba untuk ceritakan lebih mendalam tentang nanas madu tersebut.

Dari perjalanan saya di dua lokasi wiasta ini saya dapat memberikan beberapa informasi:

  1. Kedua curug ini aset berharga warga di desa masing-masing sekaligus wisata Pemalang
  2. Kedua curug ini memang indah seperti gambarnya yang beredar
  3. Biaya untuk masuk ke kedua curug ini sangat terjangkau
  4. Jalur menuju lokasi Curug Sibedil sudah oke, untuk Curug Bengkawah lumayanlah.
  5. Pelayanan sudah oke

Beberapa masukan:

  1. Curug Bengkawah
  • Jalur menuju lokasi perlu dibuatkan akses yang lebih mudah lagi, misalnya jalan yang masih bebatuan kasar dibuatkan jalan aspal dan jalan di sekitar sawah diperlebar.
  • Penempatan penjual makanan ditertibkan lagi. Usahakan jangan mengunakan lokasi curug akan lebih pas jika ditempatkan di area parkir.
  • Perlu disiapkan tempat sampah, larangan buang sampah sekaligus pengelolaan sampahnya agar lokasi wisata ini terjaga kebersihannya
  1. Curug Sibedil
  • Perlu disiapkan lahan parkir untuk mobil
  • Lahan parkir motor sebaiknya dibeton agar tidak becek ketika hujan
  • Jalur masuk ke lokasi agar lebih diperhatikan lagi kebersihannya demi kenyamanan pengunjung
  • Perlu disiapkan larangan untuk tidak buang sampah sembarangan di lokasi curug
  • Pagar jalan setapak di atas curug perlu dibuatkan yang lebih aman

Semoga tulisan saya ini bisa dijadikan referensi untuk wisata kalian, semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah;