Sore itu mendung benar-benar tinggal menjatuhkan air. Lalu lalang kendaraan roda dua dan empat meriuhkan suasana di perbatasan Pemalang dan Purbalingga yang awalnya sunyi. Saya sempatkan memotret gapura “Selamat Datang di Kabupaten Pemalang” yang tampak usang tergerus masa.

Ketika hujan mulai turun karena di sekitar tempat berteduh kurang memadai, saya putuskan untuk lajukan motor menuju Pemalang. Ternyata hujan kian lebat, sambil melaju, saya tengok kanan dan kiri untuk mencari tempat berteduh yang representatif. Akhirnya saya paksakan untuk berhenti di salah satu kios di Desa Belik. Sambil menunggu hujan reda, saya pesan kopi dan menyandarkan badan di sandaran bangku yang terbuat dari bambu. Di samping saya ada sesosok berperawakan paruh baya, berkumis dan memiliki senyum menawan.

Sambil menunggu kopi datang, saya membuka perbincangan dengan Bapak yang namanya saya dapatkan setelah saya mau pamit itu, Bapak Muhajirin. Darinya, saya mendapatkan banyak informasi tentang buah mungil nan menggoda itu. …

 

Bersambung…

Advertisements