Ikan Arsik, merupakan makanan khas dari tanah batak, Tapanuli, Sumatera Utara (koreksi kalo salah yah). Mirip dengan Ikan Asam Pedasnya Padang, rasane asem tur PEDDAS. Pertama kali makan kuliner ini pertengahan tahun 2000 saat saya tinggal di Kotapinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Bude saya kebetulan orang asli Batak bermarga Gultom dan dikaruniai dengan keahlian masak, hehe. Jadi deh, selama tinggal di sana, saya menikmati banyak makanan enak dari hasil racikannya. Ikan Arsik adalah salah satunya.

Setelah pindah kembali ke Jawa tahun 2004, makanan ini sangat sulit saya temukan. Alternatif lain memang saya mencari makanan di Rumah Makan Padang, carinya yah Ikan Asam Padeh/Pedas. Sampai pada suatu waktu saya main ke Pasar Senen. Di sana saya menemui Kholidah yang dulunya adalah asisten rumah tangga di rumah Pakdhe saya ketika di Kotapinang. Pas waktunya makan siang, saya disuguhi dengan nasi dan ikan arsik. Sesuatu banget bisa makan makanan kesukaan, hehe.

Tahun 2015 keluarga Pakde saya mudik ke Pemalang, Jawa Tengah. Mereka memborong ikan beberapa kg di salah satu pasar yang ada di Pemalang. Hasilnya, kami keluarga besar simbah, makan ikan arsik rame-rame. Itulah sekilas riwayat saya dan ikan arsik sebelum akhirnya makan kembali pada hari Rabu (10/1/2018) kemarin.

massolpanjava kuliner ikan arsik dari tanah batak

Rabu kemarin tanggal 10 Januari 2018 saya akan pulang dari Jakarta (Stasiun Pasar Senen) menuju Pemalang menggunakan Kereta Jayabaya jam 13.00 WIB). Saya berangkat dari Stasiun Cikarang dengan KRL menuju Stasiun Senen. Berhubung waktunya masih panjang ketika tiba di Stasiun Pasar Senen, saya putuskan untuk keluar stasiun dan menghampiri Pasar Senen khusus blok yang banyak jual buku-buku. Di sana saya mencari kembali teman saya yang kerja di sana. Setelah saya cari-cari ternyata tidak ketemu sampai saya menemukan sebuah warung nasi sederhana yang diberi nama Warung Nasi Madina.

Kata “Madina” sendiri setelah saya gali kepada pemiliknya ternyata bukan Kota Madinah yang ada di Arab Saudi melainkan salah satu daerah di Sumatera Utara. Madina merupakan akronim dari Mandailing Natal yang sebelumnya masuk Kabupaten Tapanulis Selatan dan sejak tahun 1999 sudah menjadi Kabupaten Mandailing Natal.

Di warung ini saya memesan nasi dengan lauk ikan arsik dan ubi tumbuk. Minumnya saya pesan es teh. Sambil makan saya berbincang dengan ibu pemilik warung ini. Di warungnya memang tidak banyak makanan khas dari Sumatera yang ia sediakan. Hanya ada ikan arsik, ubi tumbuk dan ikan sale yang dimasak dengan santan.

Saat menu-menu yang saya pesan dihidangkan di hadapan saya. Jiwa saya serasa kembali ke tanah Sumatera. Menikmati makanan khas di sana. Tangan tak sabar menjamah ikan yang sedari tadi menggoda-goda untuk disantap.

Cuilan ikan saya colek-colekkan di bagian kuah lalu saya daratkan ke mulut, maknyus brooo. Rasa asemnya begitu nendang, ditambah dengan pedas, mmmhhh makin maknyus pokoke. Giliran ubi tumbuk sebagian saya tumpahkan ke atas nasi. Hemmmm. mantep booos. Hingga tak terasa semua makan tersebut bersih tak bersisa.

Ibu Yetti menempati lapak makan ini sekitar 11 tahunan. Lama juga yah. Tempatnya sangat sederhana. Kapasitasnya juga paling hanya bisa menampung sekitar 10 orang sekaligus pada saat bersamaan.

Warung Nasi Madina ini buka setiap pagi dan tutup pukul 4 sore. Selain menu makan khas Batak yang saya sebutkan tadi, di sini juga menyediakan menu lain seperti umumnya warung-warung yang ada di Jakarta. Hal lain yang saya dapat di sini adalah suasana Sumatera-nya dapat banget. Kebetulan di sekitar area ini mayoritas bersuku Batak, Sumatera Utara. Jadi, jika kangen kehidupan di Sumatera mampirlah ke lingkungan di sini, hehe.